“Nin…dyo..” sebut ku pelan bernada mengeja sambil menulisnya di jendela yang mengembun karena hujan barusan. Sudah dua minggu belakangan ini aku jadi hobi nongkrong di balik jendela kamar. Menunggu dewa hujan turun, sampai ia kembali lagi ke langit dan meninggalkan jejak di jendela.
Selama dua minggu ini hujan selalu jadi tontonan menarik untuk ku. Setiap menatap hujan, rasanya ada pentas opera romansa yang ku lihat di tengah-tengah nya. Aneh memang, terlalu berkhayal rasanya. Entahlah.. khayalan ini berawal karena senja itu. Ya, senja itu. Saat hujan, buku dan kelabu bercerita tentang dua insan bagai Galih dan Ratna. Ah, bukan.. bukan Galih dan Ratna, tak pas rasanya ku sebut bagai Galih dan Ratna, mengingat si dua insan ini tak menjalin cinta dan tak mengikat janji setia. Sebenarnya ini hanya cerita tentang dua insan yang kebetulan bersama karena hujan yang turun tiba-tiba.
Saat itu, di penghujung Desember pukul 15.00 aku mendapat pesan masuk. Terlihat di layar handphone ku pemberitahuan pesan masuk dari ‘Onyong’ . Nama yang aneh memang, tapi nama itu lah yang membuatku lebih akrab dengannya.
“Hey, jadi enggak? Udah sore nih, mendung juga..” begitu isi pesan tersebut.
Hari itu aku dan dia berencana untuk bertemu di suatu tempat. Bukan untuk melepas rindu atau untuk mengobrol santai lalu makan es krim bersama. Rencana pertemuan ini hanya untuk mengembalikan bukunya yang sudah ku pinjam sejak lama—yang sebenarnya sudah kusut dan tak berupa.
“Sebentar, aku masih di rumah saudaraku. Kamu tunggu di tempat biasa ya, setengah jam lagi aku nyusul. Tapi terserah, kalau kamu gak mau nunggu, berarti buku mu buat aku!” balasku dengan nada pura-pura mengancam.
Saat masih SMA, aku dan dia sempat beberapa kali membuat janji untuk bertemu hanya untuk hal yang sebenarnya bisa kita lakukan di sekolah. Pertemuan pertama kami yaitu untuk mengirim file film dari laptopnya. Pertemuan kedua yaitu untuk meminta file musik, dan pertemuan ketiga—pertemuan yang terdengar agak lebih penting—yaitu untuk membicarakan tugas kelompok, yang sebenarnya ini pun seharusnya di bicarakan bersama dengan anggota kelompok lain, tapi kami hanya mendiskusikannya berdua. Setelah lulus dari SMA, kami belum lagi sempat bertemu. Akhirnya, di penghujung Desember tahun lalu pertemuan itu terulang lagi.Sebenarnya setiap pertemuan yang tak penting itu selalu terselip kesan istimewa untukku. Kesan yang membuatku selama ini tak mengerti dengan isi hati sendiri.
Dia, Nindyo. Sosok yang selalu menjadi alasan pertemuan yang sederhana itu menjadi istimewa. Sosok yang membuatku bingung dengan arti “persahabatan” yang selama ini menjadi bingkai dari kedekatan kami berdua. Sosok yang membuatku tak mengerti sebenarnya apa arti dari pertemuan, apa arti dari ucapan “selamat pagi” di setiap pagi menjelang, sosok yang membuatku heran dengan semua perhatian di balik sifat cueknya. Ya, dia..Nindyo.
Ini merupakan kali keempat pertemuanku dengannya. Di tempat yang sama.
“Hey, masih di mana? Aku udah sampe nih! Aku sekarang di samping koperasi. Cepetan, Opet! Udah mau ujan” untuk ke sekian kalinya dia mengirim pesan. Kali ini dia mulai menyebut-nyebut nama ejekanku—Opet.
“Bawel! Aku lagi di jalan nih.. sopir angkotnya lelet banget! Mau nyuruh buat ngebut, emang dia bapakku!? Sabar.. tungguin..!” balasku dengan nada ‘nyolot’ seperti biasa.
Pukul 16.00 aku sampai di tempat yang di janjikan. Sudah terlihat dia sedang menunggu di samping koperasi Tribuana. Dari arah samping, aku coba mengagetkannya.
“Woyyy!” sapa ku kasar sambil menepuk pundaknya dengan cukup keras.
“Wadaw! Dihh.. jail banget sih!”
“Hahah.. kaget ya? Sukurin!”
“Malah cengengesan. Gak ada rasa bersalahnya banget sih, orang udah nunggu dari tadi pagi!”
“Dih, lebay banget dari tadi pagi! Iya, maaf..maaf.. abisnya tadi ada urusan dulu sama saudaraku, terus tadi sopir angkotnya lelet banget!”
“Yaudah, mana bukunya?”
“Oiya, Nih! Hhhhe” ku kembalikan bukunya sambil nyengir cengengesan karena bukunya sudah ku buat kusut, berbeda saat pertama aku meminjamnya masih bagus dan rapi.
“Ya ampun... kamu apain aja buku ku sampe bentuknya kayak gini?” ujarnya sambil geleng-geleng.
“hehe.. maaf ya.. abisnya itu buku keren banget! Sampe aku bawa-bawa tidur, kadang aku jadiin bantal juga..hehe”
“Dasar..jorok!”
“Bodo amat! Wlee… Ya udah, aku gak bisa lama-lama, udah sore juga.. tadi kata mama harus cepet-cepet pulang”
“Oh yaudah” jawabnya singkat dan datar.
“Dih.. dasar jutek! Yaudah, aku pulang!” tanpa basa-basi lagi aku pun berlalu meninggalkannya dengan perasaan kesal.
Begitulah jika kami berdua bertemu. Obrolan kami seperti dua orang musuh yang tak pernah akur. Berbeda jika obrolan itu berlangsung lewat pesan singkat. Akan lebih lembut seperti obrolan Cinderella dengan Pangerannya. Aneh,memang. Aku pun tak mengerti.
Aku yang berlalu meninggalkannya, menaruh harap kalau dia memanggil dan menahanku untuk mengobrol lebih lama. Namun, sampai aku tiba di tepi jalan pun tak ada panggilan darinya.
“Huh, dasar cuek! Jutek! Tak ada peduli-pedulinya” keluhku dalam hati.
Saat aku menunggu bus untuk pulang, tiba-tiba setetes dua tetes air terasa mendarat di kepalaku. Lama-lama tetesan itu membawa beribu pasukan yang menyerbu bumi. Seketika suasana menjadi riuh oleh guyuran hujan. Saat itu pula ada yang menarik lenganku dan menggiringku untuk berteduh.
“Udah aku bilangin jangan dulu pulang! Mau pulang juga pasti ujan” ucapnya masih dengan wajah datarnya sambil mengibas-ngibas jaketnya yang basah.
“Kapan kamu bilang gitu? Ngarang!” jawabku masih kesal.
“Aku bilangnya pake bahasa hati..kamu aja yang gak ngerti”
“Kayak yang punya hati aja!” cibirku sekenanya.
“Duduk di sana aja yuk!” ajaknya sambil menuju tempat yang di tunjuk tanpa menghiraukan cibiranku.
Kami pun duduk di kursi koperasi nomor tiga dekat pintu masuk ke swalayan. Baru saja duduk beberapa menit, dia beranjak dari duduknya.
“Aku ke swalayan dulu, tunggu sebentar..” ijinnya padaku.
Beberapa menit kemudian dia kembali sambil membawa dua bungkus es krim coklat kesukaanku.
“Nih!” masih dengan ekspresi datar dan ketusnya yang khas, dia menyodorkan es krim padaku.
“Apaan nih?”
“Jangan pura-pura gak tau, udah jelas itu es krim! Makan aja”
“Lagi dingin gini makan es krim?” kataku sambil membuka bungkusan dan mencicipi es krimnya perlahan.
Tiba-tiba perasaan kesalku berubah menjadi heran dan haru. Di balik sifat cueknya setiap bertemu, kali ini dia terkesan lebih perhatian dan peduli.
Pertemuan ini malah menjadi momen mengobrol sambil makan es krim bersama—jauh dari rencana asalnya. Saat itu kami jadi mengobrol banyak tentang segala hal, mulai dari membicarakan kelakuan kami saat SMA, membicarakan tentang perkuliahan kami, sampai bergosip tentang teman-teman kami. Sesekali gelak tawa menghiasi obrolan kami. Saat itu aku merasakan hal yang begitu berbeda dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Biasanya jika kami bertemu, dia hanya mengobrol seperlunya, ada hal yang lucu pun dia hanya tertawa kecil—itu pun terpaksa. Namun, saat itu dia menjadi sosok yang berbeda dari biasanya. Entahlah, saat itu kesan yang ku bilang belum pernah ku temukan artinya itu muncul kembali.
Berkali ku sempatkan menatap penuh wajahnya saat mengobrol. Berkali pula muncul pertanyaan dari hati kecilku “Sebenarnya apa maksud dari sikap mu pada ku selama ini, Yo?” tanyaku dalam hati.
Pukul 17.10 pasukan dari langit mejelma menjadi manisnya gerimis yang membingkai senja saat itu.
“Ujannya udah mulai reda,tuh! Udah sore banget. Aku antar pulang ya!”
Untuk ke sekian kalinya di hari itu dia membuatku heran dengan sikapnya. Untuk pertama kalinya dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Akhirnya kami pun pulang saat itu juga dengan menggunakan sepeda motornya. Sepanjang jalan, kami berdua hanya saling diam. Berbeda dengan suasana saat makan es krim tadi. Gerimis masih manis membingkai senja kami.
“Ra..” tiba-tiba ku dengar ada yang menyebut namaku di tengah-tengah riuhnya angin karena laju sepeda motor. Ternyata dia yang memanggilku. Untuk kesekian kalinya lagi dia membuatku heran. Sebelumnya dia tak pernah memanggilku dengan sebutan nama asliku, Rara. Dia selalu memanggilku ‘Opet’.
“Ya, ada apa??” jawabku dengan volume cukup keras karena harus melawan suara riuh angin.
Dari situ tidak ada jawaban lagi darinya. Tiba-tiba gerimis terusir kembali oleh kedatangan pasukan langit. Hujan turun lagi cukup deras. Dia mencoba mengajakku untuk berteduh dulu, namun aku menolaknya..
“Jalan terus aja! Bukannya momen kayak gini yang kita pengen?? Ujan-ujanan, menyatu dengan alam! ya ini saatnya! Hha” teriakku padanya
“Ya! Meyatu dengan alam! hhha” balasnya dengan volume suara sama.
“Kamu masih ingat dengan teori teman kita,si Vivi? Dia bilang, hujan itu 2% air, 98% kenangan! Ayo kita buat kenangan yang istimewa di momen hujan kayak gini! Haha”
“Haha.. dasar kamu penganut teori sesat si Vivi!”
Saat itu kami bagai dua insan gila yang begitu girang di tengah-tengah guyuran hujan. Di lihat beberapa pengendara motor lain yang berteduh di pinggiran toko pun, kami tak peduli.
Sesampainya di rumahku, hujan sedikit reda. Kami baru sadar ternyata betapa kuyupnya kami saat itu. Melihat kondisi tubuh masing-masing dan mengingat kelakuan kami saat tadi hujan, kami hanya tertawa terbahak-bahak. Dari situ, aku ijin pamit masuk rumah, meski rasanya masih ingin terus bersamanya.
“Aku masuk dulu,ya.. makasih tumpangannya..moga kamu gak nyesel udah ujan-ujanan nganter aku..” ucapku sambil menyungging senyum.
“No, aku gak bakalan nyesel. Ya udah, sana masuk! Mandi, terus ganti baju!”
“Kamu hati-hati ya pulangnya.. ya udah, aku masuk dulu, Bye..” aku berlalu meninggalkannya menuju rumah. Sesaat kemudian dia memanggilku lagi persis seperti saat di motor tadi.
“Ra!”
Aku membalik badan, dan melihat dia menyungging senyum padaku. Hanya senyuman. tak ku temukan jawaban.
“Nin…dyo..” ucapku lagi sambil menatap tulisan yang ku tulis di jendela yang mengembun. “Ah, kau ini penuh rahasia.. aku ingin hujan lagi..”