Rabu, 09 September 2015

Senja Kedelapan Belas

"Kayaknya kita udah gak cocok. Aku mau sendiri dulu" ucapnya lirih. Badannya yang tegap kini terlihat layu bersandar di kursi taman yang dari tadi kita duduki di senja ini.
Seketika arakan awan terhenti. Kenari membisu. Angin begitu saja pergi. Hanya tersisa sinar oranye yang menyelinap lewat celah gumpalan kapas di langit.
Aku sendiri lebih memilih tuk meniru kenari, membisu. Mencoba mencerna kembali ucapannya yang tadi. Berharap itu hanya salah ucap atau lelucon semata.
"Aku tahu, ini membuatmu heran, sakit malahan. Tapi, aku rasa ini yang terbaik buat kita. Saatnya buat kita saling membenahi diri, fokus dengan cita-cita kita. Menjalin hubungan yang belum pasti bagaimana kedepannya buatku itu hanya buang-buang waktu. Semoga kamu mengerti. Yang perlu kamu tahu, aku selalu ada buat kamu. Lebih dekat dari sekarang ini. Do'a" dia masih tertunduk. Kemudian sekali menatapku sebelum akhirnya kembali menunduk seraya memberi penekanan pada kata doa.
"Aku juga tahu, sudah berpuluh senja kita lalui. Kelabu, oranye, gerimis, deras, kita udah leawti bersama. Kita berdoa saja semoga nanti akan ada senja di mana kita di dalamnya sudah berada dalam jalinan yang pasti" lanjutnya.

Aku harus pasrah, puluhan senja yang sudah kita lalui rupanya harus habis di lahap angka satu dan delapan di bulan Juni ini.

Flash Fictiom ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di facebook dan twitter @nulisbuku

0 comments:

Posting Komentar